Di bagian pertama dari seri “Studying and Funding Your Study Abroad” saya sudah uraikan beberapa macam beasiswa yang dapat dimanfaatkan untuk mendanai pendidikan Anda di luar negeri. Seri pertama memang khusus mengulas pendanaan melalui beasiswa. Pada seri kedua ini, saya akan uraikan cara lain untuk mendanai pendidikan Anda (secara legal tentunya!) di luar negeri. Karena apa yang saya tulis ini merupakan pengalaman yang sudah saya jalani, maka mohon maaf jika secara geografis bahasan saya kali ini hanya terbatas pada konteks pendidikan di Amerika Serikat dan pada konteks jenjang pendidikan S-2/graduate level. Mungkin nanti jika ada informasi lain tentang pendanaan pendidikan non-beasiswa di negara lain selain AS dan bukan hanya untuk S-2/graduate level yang bermanfaat, segera akan saya posting di sini.
Baiklah, anggap saja alternatif pertama – beasiswa – bukanlah hal yang tepat untuk Anda untuk satu dan lain hal. Lantas bagaimana caranya agar impian Anda untuk bisa studi lanjut ke luar negeri tercapai? Tenang saja, masih ada cara lain. Sebelum kita mulai, perlu saya ingatkan terlebih dahulu bahwa pada alternatif kedua ini, Anda akan memerlukan sedikit ‘investasi’. Selain itu, ditinjau dari sisi ‘risiko’, alternatif kedua ini memiliki risiko lebih tinggi daripada pendanaan melalui beasiswa. Jangan terburu-buru alergi mendengar kata risiko. Kita semua tokh hidup dalam dunia yang penuh dengan risiko. Jadi pada prinsipnya tanpa disadari kita selalu hidup dengan risiko. Masalahnya kita jarang membahasnya sehingga ketika kata ‘risiko’ diperdengarkan, seolah-olah kita akan menghadapi suatu bahaya besar padahal mungkin kenyataannya tidak seburuk itu.
Di Amerika Serikat banyak sekali peluang-peluang untuk mendapatkan pekerjaan di kampus yang sekaligus dapat membayar uang sekolah Anda. Jika Anda beruntung, maka bukan hanya uang sekolah Anda tetapi juga uang saku yang cukup untuk memenuhi kebutuhan minimal Anda. Peluang macam apa itu? Peluang untuk bekerja sebagai (Graduate) Research Assistant dan/atau Teaching Assistant. Mengapa saya memberi tanda ( ) pada istilah Graduate? Karena memang posisi ini diperuntukkan bagi mereka yang terdaftar pada jenjang program S-2/graduate level. Biasanya posisi ini memberi manfaat kepada penjabatnya dua hal: biaya pendidikan digratiskan dan gaji/upah (Tuition waiver + stipend). Menarik sekali bukan? Memang, justru karena menarik itulah maka posisi ini adalah posisi kompetitif, yang artinya Anda harus bersaing dengan sejumlah orang yang juga mengincar posisi ini.
Untuk program S-2, posisi yang seringkali ditawarkan adalah GRA atau graduate research assistantship. Di universitas tempat saya belajar dahulu – Georgia State University – ada 3 tingkat GRA: GRA I, GRA II, dan GRA III. Dari ketiga macam GRA tersebut, GRA I yang paling rendah. Yang membedakan di antara ketiga level tersebut adalah nilai gajinya. Semuanya tetap memberikan manfaat penghapusan biaya pendidikan. Untuk GRA I: nilai gaji (stipend) US$ 600/quarter (3 bulan), GRA II: US$ 1,200/quarter, dan GRA III: US$ 1,800/quarter. Posisi GRA III diperuntukkan untuk mahasiswa PhD dan biasanya dikombinasikan dengan posisi Teaching Assistant/TA. Posisi TA ini mengharuskan Anda mengajar/mengampu kelas di jenjang S-1/undergraduate study.
Tarif yang saya sampaikan tersebut adalah tarif 10 tahun yang lalu. Saya yakin sekarang sudah meningkat. Informasi terakhir yang saya peroleh, posisi GRA III untuk program PhD di jurusan Marketing adalah sebesar US$ 15,000/tahun (perbulannya sekitar US$ 1,250). Setiap universitas berbeda tingkat gajinya. Di Harvard, kalau tidak salah sekitar US$ 25,000 – 30,000/tahun. Contoh lagi, di Georgia State University (dan mungkin juga di kebanyakan universitas lain), setiap mahasiswa PhD yang diterima dan terdaftar di program PhD otomatis akan mendapat posisi GRA tersebut, dan setelah tahun kedua mereka boleh mengajar sebagai TA (insentif finansial tambahan yang menarik tentunya). Tentu saja Anda harus menjaga prestasi belajar Anda sesuai dengan yang seharusnya. Jadi dengan begitu, kesimpulannya, studi lanjut ke jenjang S-3 di mayoritas universitas di Amerika Serikat gratis! Ada ‘tapi’-nya: untuk masuk ke program S-3 tidak mudah karena tentu saja banyak persyaratan yang lebih berat daripada masuk ke program S-2. Contoh: TOEFL score min. 600, GMAT score (untuk program Business Administration) min. 600 juga, rekomendasi yang kuat dari profesor di program sebelumnya, daftar publikasi artikel dan riset yang pernah dilakukan, dan lain sebagainya.
Bagaimana dengan program S-2? Seperti yang sudah saya ulas sedikit, untuk program S-2 bentuk GRA-nya berbeda dengan S-3. Di program S-2, pemegang GRA tidak diijinkan untuk mengajar satu kelas secara penuh, tetapi masih dimungkinkan untuk menjadi tutor alias guru les privat. Tugas dan tanggung jawab apa saja yang tercakup dalam GRA untuk program S-2? Biasanya Anda akan diminta untuk menjadi asisten dosen – tidak dalam kapasitas untuk mengajar tetapi untuk menyiapkan materi-materi ajar. Anda juga akan diminta untuk membuat presentasi power point, website, atau data entry untuk riset yang dilakukan oleh dosen yang bersangkutan, serta beberapa tugas kecil lainnya – tergantung kepada sang dosen.
Walaupun begitu ada situasi lain di mana posisi GRA untuk program S-2 kadang-kadang mencakup lingkup kerja yang tidak berhubungan dengan dosen sama sekali. Contohnya adalah pengalaman pribadi saya sebagai GRA yang tidak berhubungan dengan dunia akademik sama sekali. Saya akan bercerita sedikit tentang hal itu.
Waktu itu – pada saat seluruh Asia dilanda krisis moneter tahun 1997 – saya dalam kondisi frustasi karena kiriman uang dari tempat saya bekerja di Indonesia selaku sponsor pendidikan saya sering terlambat. Bisa dipahami keterlambatan tersebut. Saat itu nilai tukar IDR/USD sempat mencapai Rp 17.000,-/US$ 1!! Bagaimana tidak berat, dalam hitungan bulan devaluasi mata uang Indonesia menukik dengan tajam, dari US$1=Rp 2.600 sampai US$1=Rp 12.000,- hanya dalam hitungan bulan! Akhirnya daripada saya drop out, lebih baik saya bergerak melakukan sesuatu. Kebetulan sekali pada saat yang bersamaan ada lowongan untuk posisi GRA II tetapi tidak ditempatkan di fakultas tertentu sebagai asisten dosen melainkan untuk ditempatkan di Office of International Students and Programs – sebuah kantor di dalam universitas yang bertanggung jawab atas segala urusan yang menyangkut para mahasiswa internasional. Singkat cerita, alhamdulillah, saya diterima di posisi itu. Saya berperan sebagai Assistant of Event and Program Officer. Ruang lingkup tugas saya seputar pelaksana lapangan untuk program-program yang diselenggarakan oleh kantor tersebut seperti program orientasi mahasiswa baru, event-event yang mempromosikan kemulti-budayaan universitas kepada masyarakat lokal setempat, dan sebagainya. Bisa dibilang tugas saya hampir mirip seperti event organizer. Memang tidak sesederhana EO karena ada tugas-tugas tertentu yang mengharuskan saya melakukan fungsi riset atau investigasi sederhana seperti polling dsb. Walaupun begitu, tetap saja bagi saya menyenangkan mendapatkan peluang tersebut karena pada akhirnya saya selesai studi hanya mengandalkan pendapatan sebagai GRA. Suatu solusi yang sama-sama menguntungkan baik bagi saya karena selamat dari dropout maupun bagi tempat kerja saya yang semula berperan sebagai sponsor karena tidak harus menanggung biaya menyekolahkan saya lagi.
Nah, tadi saya nyatakan di awal bahwa alternatif kedua ini membutuhkan ‘investasi’ dan ‘risiko’. Investasi yang mungkin harus Anda lakukan adalah Anda harus bisa diterima terlebih dahulu di universitas yang Anda inginkan. Untuk itu, Anda harus memenuhi semua persyaratannya termasuk financial affidavit atau bukti kemampuan finansial. Ini dapat diatasi dengan dua hal: 1. Anda memang harus mempunyai uang sendiri yang dialokasikan untuk pendidikan Anda setidaknya untuk satu tahun pertama, atau 2. Anda meminjam dana relasi Anda untuk ditransfer ke rekening Anda secara sementara atau meminjam rekening relasi Anda untuk dijadikan sebagai financial affidavit. Tentu saja sebaiknya relasi ini adalah orang dekat Anda yang bersedia membantu Anda hanya untuk bisa diterima terlebih dahulu. Setelah Anda diterima, berangkat dan tiba di AS, sejak hari pertama Anda kuliah segeralah mencari peluang GRA tersebut supaya semester berikutnya Anda terbebas dari biaya pendidikan dan mendapat uang saku gratis. Itu tentu artinya untuk semester pertama Anda harus siap “investasi” biaya hidup dan pendidikan. Di sinilah maksud saya dengan ‘investasi’.
‘Risiko’ yang saya maksudkan tentu terkait dengan probabilitas Anda memperoleh posisi GRA tersebut. Selalu ada risiko bahwa Anda kalah kompetisi untuk mendapatkan posisi tersebut. Walaupun begitu, segala sesuatunya jauh lebih mudah apabila Anda sudah berada di sana. Anda masih dapat mengajukan pinjaman yang disebut ’student loan’, yaitu pinjaman dari universitas untuk biaya pendidikan Anda. Anda harus mengembalikan dana tersebut setelah Anda bekerja secara kredit. Lho, apakah saya bisa bekerja padahal saya tidak punya visa kerja? Itu reaksi Anda tentu saja. Setelah lulus, mahasiswa internasional diperbolehkan untuk menjalani practical training (magang kerja) pada perusahaan-perusahaan di AS selama 1 tahun. Kalau Anda berprestasi baik dan beruntung, atasan Anda mungkin saja akan mengaplikasikan visa kerja untuk Anda. Banyak teman-teman saya yang berhasil dengan cara itu. Khusus untuk topik visa kerja silakan kunjungi situs US Citizenship and Immigration Services ini. Karena tidak semua universitas menyediakan student loan, maka sebaiknya Anda banyak-banyak browsing mencari universitas yang memiliki program bantuan finansial yang kaya.
Adakah cara untuk mengurangi ‘investasi’ dan ‘risiko’ ini? Ada. Beberapa universitas yang bagus (baca: yang kaya akan program bantuan finansial dan fleksibel) memberikan kesempatan bagi Anda untuk mengajukan lamaran untuk posisi GRA bersamaan dengan lamaran untuk diterima di universitas tersebut. Salah satu teman seapartemen saya dulu, dari Bulgaria, mendapat kesempatan tersebut. Sejak di tanah airnya, dia melamar program S-2 Komunikasi Jurnalistik dan posisi GRA secara bersamaan. Ketika dia akhirnya diterima di program S-2 , dia juga mendapat posisi GRA tersebut sehingga ketika dia berangkat ke AS, dia lenggang kangkung tanpa harus khawatir tentang kondisi finansialnya. Untuk itu, ada 2 kata kunci yang saya sarankan kepada Anda adalah: 1. rajin-rajinlah browsing berbagai universitas dan kumpulkan informasi demi informasi dengan sangat teliti, 2. jangan ragu-ragu untuk menghubungi contact person di universitas yang bersangkutan dan aktiflah untuk berkomunikasi dengan mereka.
Setelah saya uraikan beberapa langkah alternatif untuk mendanai pendidikan lanjut Anda di luar negeri – khususnya di AS pada seri kedua ini – saya harap Anda terinspirasi untuk secara aktif berjuang mendapatkan kesempatan studi lanjut di luar negeri. Percayalah, ikhtiar yang serius akan mendatangkan hasil yang serius juga. Apa yang Anda terima pasti sebanding dengan pengorbanan yang Anda berikan. Jangan putus asa dan teruslah berjuang. Good luck and have a great one!
