Tiga kali sudah saya menyaksikan film Ayat-ayat Cinta yang begitu menghebohkan. Film yang diangkat dari novel bestseller karya Habiburachman El Shirazy ini mampu menyedot perhatian segala lapisan masyarakat, mulai dari ibu-ibu, anak-anak yang tengah menyongsong ke-ABG-annya, sampai kakek-kakek dan bahkan anak-anak gaul yang kalau dilihat dari tampilannya, sepertinya bukan target market untuk film semacam AAC ini. Apa dikata, tokh mereka tetap dengan sabar dan taklim terjebak dalam antrian panjang luar biasa untuk membeli tiket masuk film AAC.
Kali pertama, saya berangkat sendiri ke bioskop untuk menyaksikan film ini. Teman-teman saya bilang, “Busyet.. Niat bener yak?” Saya tidak pedulikan karena saya memang lebih menikmati nonton sendiri untuk film-film ber-genre semacam in. Puas dan bebas menangis tersedu-sedu atau bahkan tertawa terbahak-bahak jika saya menonton film-film drama. Kali kedua, dengan ibu saya. Gantian ibunda saya menangis tersedu-sedu, saya masih ikut larut dalam keharuan di kesempatan kedua ini. Kali ketiga, saya bersama para ibu guru kelas anak saya. Di kali ketiga ini, saya tidak secengeng pertama dan kedua, tetapi masih ada saja adegan yang selalu mengundang airmata saya, baik pada kali pertama sampai ketiga menyaksikan film ini.
Adegan itu tidak lain adalah adegan ketika Fahri di penjara menerima surat pemberitahuna dari Universitas Al-Azhar bahwa ia dikeluarkan dari universitas. Saat itu, dunia Fahri benar-benar ambruk. Ia menangis sejadi-jadinya bahkan berontak kepada Tuhan dengan berteriak “Apa salah saya pada Allah?!”. Kawan satu sel Fahri – yang digambarkan agak sedikit sinting – tertawa terkekeh-kekeh sementara Fahri begitu terpukulnya. Saya pikir, ‘emang gokil nih orang’. Tapi adegan selanjutnya benar-benar di luar dugaan saya. Justru dari mulut si gila itu malah keluar kata-kata bijak yang orang waras seringkali melupakannya. Lepas dari apakah adegan itu masuk akal karena kata-kata bijak itu bisa muncul dari seorang tahanan yang rada sinting, saya cukup tersentuh dengannya.
Kutipan saya tidak 100% persis benar tapi kira-kira si tahanan sinting itu berkata, “Tuhan sedang bicara padamu, Fahri. Engkau sombong, maka Tuhan sedang bicara padamu. Engkau sombong, merasa yang paling benar, yang paling suci..” Lalu selanjutnya si sinting menyitir salah satu cerita dalam Al-Quran, tentang Nabi Yusuf yang difitnah telah memperkosa Zulaikha. Zulaikha memfitnah Nabi Yusuf karena ia tidak tahan melihat ketampanannya sehingga ia ingin memilikinya tapi dengan cara-cara yang munkar, dengan memfitnahnya. Berat sekali cobaan Nabi Yusuf saat itu. Cerita itu disitir karena keadaan Fahri hampir mirip dengan apa yang terjadi pada Nabi Yusuf.
“Kau tahu apa yang dikatakan Yusuf?? Kau tahu? Yusuf berkata, Ya Allah, jika penjara itu lebih baik bagiku maka aku lebih memilih di penjara tapi dekat dengan-Mu, Ya Allah, daripada di luar penjara berkumpul dengan orang-orang pendusta itu!!” sambung si tahanan sinting kepada Fahri.
“Sabar dan ikhlas, Fahri.. Sabar dan ikhlas, itulah Islam..”
Adegan ini selalu menyentuh saya, menyentuh hati nurani saya yang terdalam, dan mempermalukan saya dengan menunjukkan betapa saya sering tenggelam dalam kesombongan, ketidaksabaran, dan ketidak ikhlasan.. Hal-hal kecil yang tidak mengenakkan saja sudah membuat saya tidak sabar. Orang lain memperlakukan saya dengan cara yang tidak saya sukai, saya sudah tidak rela. Ada orang yang kadang-kadang ‘omong gede’ saya sudah langsung melecehkannya dalam hati.
Apa yang saya alami tidak ada seujung kukunya dari apa yang dialami Fahri (dalam film) ataupun Nabi Yusuf saat itu. Tapi tokh seringkali saya merasa menjadi orang paling menderita di dunia. Saya merasa dunia tidak adil kepada saya. Saya merasa kenapa saya selalu harus melewati proses penderitaan sedangkan orang lain bisa langsung masuk jalan tol. Padahal apa yang saya alami ternyata tidak sebanding dengan penderitaan orang-orang lain dan mereka tetap bisa sabar dan ikhlas. Benar-benar suatu pencerahan bagi saya yang sering harus selalu “diingatkan”..
March 23, 2008 at 10:40 am
Kalau saya bilang dik Mira baru saja mengalami “takabur” dan harus sangat bersyukur karena akhirnya disadarkan oleh Allah akan kondisi itu. Sebesar apapun ilmumu harus selalu meminta ridho Allah dalam kita melakukan setiap tindakan dalam hidup. Semoga setelah kejadian penyadaran ini dik Mira bisa lebih sabar, ikhlas, dan tawakal, amin.
Salam,
t.tini
March 28, 2008 at 5:20 pm
Waduh, neng Mira sedikit banyak juga menyentuh cerita di sebagian hidupku lhoh… hihihihi… Hanya yang saya lihat, banyak orang “berani menilai ibadah orang lain itu tidak baik” seolah-olah dirinya Tuhan. Ini ya yang susah kita perbaiki, kalau memang harus diperbaiki.
March 31, 2008 at 6:51 pm
Kunjungan pertama diblognya bu mira..yang atas panggil dik yang bawah panggil neng…saya panggil apa nih..

Numpang liat2 blognya ya bu mira.. Mau ikut komen belum sampe ilmunya
Cuman ini ada blog bagus kalo mau baca2 ttg nilai2 agama http://www.kebunhikmah.com
April 1, 2008 at 3:46 am
Eh Tuan Oghex si juragan kafe…hehehe,
Terima kasih atas kunjungannya ke blog baruku ini dan terutama terima kasih referensi blog spiritualnya.. Very inspiring and soothing..
April 30, 2008 at 4:30 am
setiap orang pasti punya jalan sendiri-sendiri untuk diingatkan oleh Tuhan ya jeng, buruknya kita adalah kadang kita terlalu berani menentukan baik buruknya sikap orang sementara semua itu pasti sudah diatur oleh Yang diAtas…, well kita harus selalu “learning” dari pengalaman orang lain, dan betapa sejuk hati kita ketika kita bisa bersikap ikhlas…sebagai contoh: kenapa kadang kita harus menangis dan sedih berlarut-larut ketika kita ditinggal mati orang yang sangat kita cintai?mestinya kita berterima kasih kepada Tuhan, karena selama ini sudah dianugerahi orang yang kita cintai itu. Sebuah logika: ketika kita pinjam “sesuatu” dari orang lain, dan sesuatu itu diminta kembali oleh pemiliknya, apa yang harus kita ucapkan?tentu saja kita kan harus mengucapkan “terima kasih kan?karena sudah dipinjami…”begitu juga manusia, kita tahu manusia adalah milik Tuhan, ketika Tuhan mengambilnya dari kita, mestinya kita juga mengucapkan “terima kasih” ya Tuhan…..karena telah diminta kembali oleh yang memilikinya…
berat kan ikhlas itu? tapi harus selalu kita lakukan dalam semua hal..ikhlas dan ikhlas..
Thx u Mira for the inspiring,..buku secret jarus berulang-ulang kita baca heheh…
salam -wike