Pendidikan adalah satu kata kunci yang paling penting bagi keberhasilan suatu bangsa. Bukan karena saya dari dunia pendidikan pernyataan itu saya buat, tetapi faktanya memang dengan ilmu manusia akan kaya. Tentu saja ilmu yang bermanfaat, yang salah satunya diperoleh melalui pendidikan formal.
Sebanyak itu anak muda putus sekolah, sebanyak itu pula anak muda Indonesia yang ingin melanjutkan pendidikan mereka ke jenjang yang lebih tinggi. Tidak sedikit pula dari mereka yang ingin melanjutkan pendidikan ke luar negeri. “Tapi saya nggak punya uang untuk sekolah ke luar negeri…”, itu keluhan yang paling sering muncul. Lagi-lagi kendala dana, sudah bisa dipastikan. Jangan angkat pendapat “Memangnya pendidikan dalam negeri jelek?”. Bukan itu bahasan kali ini. Bahasan saya kali ini adalah bagaimana caranya mendanai pendidikan kita di luar negeri dengan dana Rp 0,- dari kantung kita sendiri.
OK, so you want to study abroad but you don’t have the fund! Heck, let somebody pays for it! Bagaimana caranya? Pilihan pertama: cari beasiswa (of course, duh?). Di mana? Di mana-mana. Paling komplit ya di internet. Browse semua situs yang berkaitan dengan beasiswa. “Tapi bahkan situsnya apa, saya nggak tau… Gimana dong…”. Kalau ini komentar Anda, pikir sekali lagi apakah studi lanjut memang yang Anda inginkan? Kalau ya, Anda tentu tidak akan memiliki mentalitas seperti itu – mentalitas ‘gimana dong?’… Karena bisa jadi keinginan utamanya bukan studi lanjut, melainkan yang penting tinggal di luar negeri. Kalau itu alasannya, silakan cari: 1. bule yang bersedia dinikahi supaya Anda dapat greencard, 2. kerjaan di kapal pesiar, lalu ketika kapal merapat di dermaga negara yang Anda inginkan, silakan turun dan segera kabur lalu menetap secara ilegal, atau 3. cari lotere visa greencard (sementara ini hanya Amerika Serikat yang menyelenggarakan). Tapi lagi-lagi, bahasan saya bukan bagaimana caranya bisa tinggal di luar negeri, melainkan bagaimana sekolah di luar negeri dan pembiayaannya dari pihak lain. Kita tadi sampai pada pilihan: cari informasi beasiswa di berbagai situs di internet. Bisa silakan menggunakan google, atau bisa kunjungi beberapa daftar situs beasiswa berikut ini:
Beasiswa Ford Foundation (USA)
Beasiswa Endeavour (Australia)
Beasiswa Nuffic NFP – PhD (The Netherland)
Kalau ingin yang lebih komplit lagi, silakan kunjungi situs bank data beasiswa yang saya temui ini, lumayan lengkap isinya. Atau silakan juga coba situs ini, yang juga lumayan lengkap. Itu apabila Anda ingin menggunakan sumber dana beasiswa, yang biasanya berarti tugas utama Anda adalah belajar sebaik mungkin tanpa harus melakukan pekerjaan apapun. Hanya yang perlu Anda catat adalah bahwa kompetisi untuk mendapatkan beasiswa tentunya tidak tanpa perjuangan yang berat. Kompetisinya sangat intens, khususnya untuk beasiswa di negara-negara yang English-speaking. Bagaimana dengan negara-negara yang non-English speaking? Yang pasti kompetisinya tidak seketat beasiswa negara English-speaking. Salah satu faktornya adalah kendala bahasa, artinya tidak banyak orang bisa menguasai bahasa asing lain selain Inggris. Bahasa Inggris hampir semua orang paham, tapi yang menguasai bahasa Spanyol jelas lebih sedikit persentasenya di Indonesia. Sehingga kompetisi untuk mendapatkan beasiswa ke Spanyol misalnya, lebih longgar daripada kompetisi untuk mendapatkan beasiswa seperti AusAid, Fulbright, dsb.
Mendapatkan beasiswa butuh pengorbanan dan kegigihan yang besar. Dilarang patah semangat! Saya sudah 6 tahun mencoba beasiswa AusAid dan tidak pernah lolos (pernah satu kali dipanggil untuk wawancara, tapi tetap tidak menjadi grantee). Saya juga 5 tahun berturut-turut mencoba beasiswa Fulbright dan alhamdulillah baru di tahun ke-5 ini akhrinya gol juga. Kalau menuruti kata hati saya, di tahun ketiga, rasanya saya sudah hilang semangat. Saya saat itu tidak tertarik untuk melanjutkan perjuangan ke tahun-tahun berikutnya, tapi kemudian saya pikir, apa salahnya? Kalau sudah menjadi rejeki kita, tentu tidak akan lari ke mana pun, tapi memang rejeki itu harus dicari dengan ikhtiar. Ikhtiar saya 5-6 tahun. Mungkin ada yang ikhtiarnya cukup 1 tahun dan langsung dapat (seperti waktu saya dapat beasiswa ke Spanyol 3 tahun lalu, yang kemudian tidak saya ambil..). Setiap orang kasusnya berbeda-beda sehingga kata kunci yang lain di sini adalah: dilarang putus asa di tengah jalan!
Apa saja yang harus Anda persiapkan sebelum aplikasi beasiswa? Yang pasti untuk amannya, segera ukur kemampuan bahasa Inggris Anda dengan TOEFL atau IELTS juga bisa. Untuk menghemat biaya, Anda bisa mengambil TOEFL-like test (orang bilang TOEFL2an), atau institutional TOEFL, sebelum akhirnya – jika skor Anda sudah mengalami kemajuan yang signifikan – mengambil international TOEFL. Memang beberapa beasiswa tidak mengharuskan international TOEFL – contohnya AusAid, institutional TOEFL saja sudah cukup untuk saringan pertama karena selanjutnya jika Anda shortlisted, Anda akan diminta untuk tes IELTS (gratis didanai oleh pihak AusAid). Fulbright juga tidak mengaruskan international TOEFL, institutional sudah cukup karena setelah terpilih/shortlisted, Anda akan diminta tes lagi – gratis.
Bagaimana dengan beasiswa di non-English speaking countries? Jelas, siasatilah dengan mulai kursus berbagai macam bahasa selain bahasa Inggris, sebanyak mungkin untuk memperbesar peluang Anda mendapatkan beasiswa di negara non-English speaking. Saya, sebagai contoh, saking semangat ‘45-nya, sewaktu masih sibuk mencari beasiswa, saya belajar/kursus 3 bahasa sekaligus: Spanyol, Jerman, dan Belanda. Konyolnya, saking bingungnya, kadang-kadang saya tertukar bahasa: pada saat bicara bahasa Spanyol, ada kata2 bahasa Jerman yang ‘nyelip’ tanpa sengaja, atau pada saat bicara bahasa Belanda, ada kata2 bahasa Spanyol numpang lewat. Kacau memang, tapi itu bukan masalah besar. It’s worth the result! Sehingga ketika ada lowongan beasiswa ke Jerman, Spanyol dan Belanda, saya sudah siap dengan skor hasil tes kemampuan bahasa Oh ya, masing-masing juga punya tes standar kemampuan bahasa sehingga ada baiknya untuk mengambil tes tersebut. Oleh karenanya, kursusnya sebaiknya diprogram paling tidak 1 tahun sebelum aplikasi beasiswa, jadi ada waktu cukup untuk menguasai bahasanya dan lolos syarat skor minimal tes standar kemampuan bahasanya. (Catatan: untuk bahasa Spanyol, sebaiknya sudah lolos DELE 2; bahasa Jerman Mittelstuffe dari Goethe Institut).
———- bersambung ———-
February 12, 2008 at 4:00 pm
Well, the first two lines work well. I am waiting for the rest then…
February 14, 2008 at 7:20 am
Wah, terima kasih infonya. Bermanfaat sekali.
February 15, 2008 at 12:54 pm
Sama sama, semoga ada gunanya. Saya belum selesai dengan bagian ke-2nya. Ditunggu saja. Sukses buat Anda!
February 17, 2008 at 3:38 am
Dear mba’ Mira,
Sharing yang bagus, memang banyak anak muda yang bingung gimana cari beasiswa LN. Mantan mahasiswaku banyak yang nanya “Gimana cara cari beasiswa LN, Bu?” Mudah-mudahan banyak anak muda yang baca weblog ini… Best wishes.
February 21, 2008 at 7:26 am
Cik Mira…
Tulisan yang luar biasa setelah sekian tahun berjuang dengan segala ‘ups and downs’… Pokoke, all the best… Kalo udah sekolah lagi, yang ada hanyalah senang dan senang banget. Enjoy every second of the experience….
April 15, 2008 at 2:14 pm
ada advise peluang beasiswa buat yang umurnya harusnya dah Ph.D tapi S1 saja gak selesai di Indonesia?…thanx,masih pgn bgt belajar soalnya…
June 11, 2008 at 8:03 am
mb miraaa…
August 20, 2008 at 10:41 am
I’ll think about it…
August 20, 2008 at 10:44 am
oh iya, makasih, tulisan yg bermanfaat.