February 2008


Di bagian pertama dari seri “Studying and Funding Your Study Abroad” saya sudah uraikan beberapa macam beasiswa yang dapat dimanfaatkan untuk mendanai pendidikan Anda di luar negeri. Seri pertama memang khusus mengulas pendanaan melalui beasiswa. Pada seri kedua ini, saya akan uraikan cara lain untuk mendanai pendidikan Anda (secara legal tentunya!) di luar negeri. Karena apa yang saya tulis ini merupakan pengalaman yang sudah saya jalani, maka mohon maaf jika secara geografis bahasan saya kali ini hanya terbatas pada konteks pendidikan di Amerika Serikat dan pada konteks jenjang pendidikan S-2/graduate level. Mungkin nanti jika ada informasi lain tentang pendanaan pendidikan non-beasiswa di negara lain selain AS dan bukan hanya untuk S-2/graduate level yang bermanfaat, segera akan saya posting di sini.

Baiklah, anggap saja alternatif pertama – beasiswa – bukanlah hal yang tepat untuk Anda untuk satu dan lain hal. Lantas bagaimana caranya agar impian Anda untuk bisa studi lanjut ke luar negeri tercapai? Tenang saja, masih ada cara lain. Sebelum kita mulai, perlu saya ingatkan terlebih dahulu bahwa pada alternatif kedua ini, Anda akan memerlukan sedikit ‘investasi’. Selain itu, ditinjau dari sisi ‘risiko’, alternatif kedua ini memiliki risiko lebih tinggi daripada pendanaan melalui beasiswa. Jangan terburu-buru alergi mendengar kata risiko. Kita semua tokh hidup dalam dunia yang penuh dengan risiko. Jadi pada prinsipnya tanpa disadari kita selalu hidup dengan risiko. Masalahnya kita jarang membahasnya sehingga ketika kata ‘risiko’ diperdengarkan, seolah-olah kita akan menghadapi suatu bahaya besar padahal mungkin kenyataannya tidak seburuk itu.

Di Amerika Serikat banyak sekali peluang-peluang untuk mendapatkan pekerjaan di kampus yang sekaligus dapat membayar uang sekolah Anda. Jika Anda beruntung, maka bukan hanya uang sekolah Anda tetapi juga uang saku yang cukup untuk memenuhi kebutuhan minimal Anda. Peluang macam apa itu? Peluang untuk bekerja sebagai (Graduate) Research Assistant dan/atau Teaching Assistant. Mengapa saya memberi tanda ( ) pada istilah Graduate? Karena memang posisi ini diperuntukkan bagi mereka yang terdaftar pada jenjang program S-2/graduate level. Biasanya posisi ini memberi manfaat kepada penjabatnya dua hal: biaya pendidikan digratiskan dan gaji/upah (Tuition waiver + stipend). Menarik sekali bukan? Memang, justru karena menarik itulah maka posisi ini adalah posisi kompetitif, yang artinya Anda harus bersaing dengan sejumlah orang yang juga mengincar posisi ini.

Untuk program S-2, posisi yang seringkali ditawarkan adalah GRA atau graduate research assistantship. Di universitas tempat saya belajar dahulu – Georgia State University – ada 3 tingkat GRA: GRA I, GRA II, dan GRA III. Dari ketiga macam GRA tersebut, GRA I yang paling rendah. Yang membedakan di antara ketiga level tersebut adalah nilai gajinya. Semuanya tetap memberikan manfaat penghapusan biaya pendidikan. Untuk GRA I: nilai gaji (stipend) US$ 600/quarter (3 bulan), GRA II: US$ 1,200/quarter, dan GRA III: US$ 1,800/quarter. Posisi GRA III diperuntukkan untuk mahasiswa PhD dan biasanya dikombinasikan dengan posisi Teaching Assistant/TA. Posisi TA ini mengharuskan Anda mengajar/mengampu kelas di jenjang S-1/undergraduate study.

Tarif yang saya sampaikan tersebut adalah tarif 10 tahun yang lalu. Saya yakin sekarang sudah meningkat. Informasi terakhir yang saya peroleh, posisi GRA III untuk program PhD di jurusan Marketing adalah sebesar US$ 15,000/tahun (perbulannya sekitar US$ 1,250). Setiap universitas berbeda tingkat gajinya. Di Harvard, kalau tidak salah sekitar US$ 25,000 – 30,000/tahun. Contoh lagi, di Georgia State University (dan mungkin juga di kebanyakan universitas lain), setiap mahasiswa PhD yang diterima dan terdaftar di program PhD otomatis akan mendapat posisi GRA tersebut, dan setelah tahun kedua mereka boleh mengajar sebagai TA (insentif finansial tambahan yang menarik tentunya). Tentu saja Anda harus menjaga prestasi belajar Anda sesuai dengan yang seharusnya. Jadi dengan begitu, kesimpulannya, studi lanjut ke jenjang S-3 di mayoritas universitas di Amerika Serikat gratis! Ada ‘tapi’-nya: untuk masuk ke program S-3 tidak mudah karena tentu saja banyak persyaratan yang lebih berat daripada masuk ke program S-2. Contoh: TOEFL score min. 600, GMAT score (untuk program Business Administration) min. 600 juga, rekomendasi yang kuat dari profesor di program sebelumnya, daftar publikasi artikel dan riset yang pernah dilakukan, dan lain sebagainya.

Bagaimana dengan program S-2? Seperti yang sudah saya ulas sedikit, untuk program S-2 bentuk GRA-nya berbeda dengan S-3. Di program S-2, pemegang GRA tidak diijinkan untuk mengajar satu kelas secara penuh, tetapi masih dimungkinkan untuk menjadi tutor alias guru les privat. Tugas dan tanggung jawab apa saja yang tercakup dalam GRA untuk program S-2? Biasanya Anda akan diminta untuk menjadi asisten dosen – tidak dalam kapasitas untuk mengajar tetapi untuk menyiapkan materi-materi ajar. Anda juga akan diminta untuk membuat presentasi power point, website, atau data entry untuk riset yang dilakukan oleh dosen yang bersangkutan, serta beberapa tugas kecil lainnya – tergantung kepada sang dosen.

Walaupun begitu ada situasi lain di mana posisi GRA untuk program S-2 kadang-kadang mencakup lingkup kerja yang tidak berhubungan dengan dosen sama sekali. Contohnya adalah pengalaman pribadi saya sebagai GRA yang tidak berhubungan dengan dunia akademik sama sekali. Saya akan bercerita sedikit tentang hal itu.

Waktu itu – pada saat seluruh Asia dilanda krisis moneter tahun 1997 – saya dalam kondisi frustasi karena kiriman uang dari tempat saya bekerja di Indonesia selaku sponsor pendidikan saya sering terlambat. Bisa dipahami keterlambatan tersebut. Saat itu nilai tukar IDR/USD sempat mencapai Rp 17.000,-/US$ 1!! Bagaimana tidak berat, dalam hitungan bulan devaluasi mata uang Indonesia menukik dengan tajam, dari US$1=Rp 2.600 sampai US$1=Rp 12.000,- hanya dalam hitungan bulan! Akhirnya daripada saya drop out, lebih baik saya bergerak melakukan sesuatu. Kebetulan sekali pada saat yang bersamaan ada lowongan untuk posisi GRA II tetapi tidak ditempatkan di fakultas tertentu sebagai asisten dosen melainkan untuk ditempatkan di Office of International Students and Programs – sebuah kantor di dalam universitas yang bertanggung jawab atas segala urusan yang menyangkut para mahasiswa internasional. Singkat cerita, alhamdulillah, saya diterima di posisi itu. Saya berperan sebagai Assistant of Event and Program Officer. Ruang lingkup tugas saya seputar pelaksana lapangan untuk program-program yang diselenggarakan oleh kantor tersebut seperti program orientasi mahasiswa baru, event-event yang mempromosikan kemulti-budayaan universitas kepada masyarakat lokal setempat, dan sebagainya. Bisa dibilang tugas saya hampir mirip seperti event organizer. Memang tidak sesederhana EO karena ada tugas-tugas tertentu yang mengharuskan saya melakukan fungsi riset atau investigasi sederhana seperti polling dsb. Walaupun begitu, tetap saja bagi saya menyenangkan mendapatkan peluang tersebut karena pada akhirnya saya selesai studi hanya mengandalkan pendapatan sebagai GRA. Suatu solusi yang sama-sama menguntungkan baik bagi saya karena selamat dari dropout maupun bagi tempat kerja saya yang semula berperan sebagai sponsor karena tidak harus menanggung biaya menyekolahkan saya lagi.

Nah, tadi saya nyatakan di awal bahwa alternatif kedua ini membutuhkan ‘investasi’ dan ‘risiko’. Investasi yang mungkin harus Anda lakukan adalah Anda harus bisa diterima terlebih dahulu di universitas yang Anda inginkan. Untuk itu, Anda harus memenuhi semua persyaratannya termasuk financial affidavit atau bukti kemampuan finansial. Ini dapat diatasi dengan dua hal: 1. Anda memang harus mempunyai uang sendiri yang dialokasikan untuk pendidikan Anda setidaknya untuk satu tahun pertama, atau 2. Anda meminjam dana relasi Anda untuk ditransfer ke rekening Anda secara sementara atau meminjam rekening relasi Anda untuk dijadikan sebagai financial affidavit. Tentu saja sebaiknya relasi ini adalah orang dekat Anda yang bersedia membantu Anda hanya untuk bisa diterima terlebih dahulu. Setelah Anda diterima, berangkat dan tiba di AS, sejak hari pertama Anda kuliah segeralah mencari peluang GRA tersebut supaya semester berikutnya Anda terbebas dari biaya pendidikan dan mendapat uang saku gratis. Itu tentu artinya untuk semester pertama Anda harus siap “investasi” biaya hidup dan pendidikan. Di sinilah maksud saya dengan ‘investasi’.

‘Risiko’ yang saya maksudkan tentu terkait dengan probabilitas Anda memperoleh posisi GRA tersebut. Selalu ada risiko bahwa Anda kalah kompetisi untuk mendapatkan posisi tersebut. Walaupun begitu, segala sesuatunya jauh lebih mudah apabila Anda sudah berada di sana. Anda masih dapat mengajukan pinjaman yang disebut ’student loan’, yaitu pinjaman dari universitas untuk biaya pendidikan Anda. Anda harus mengembalikan dana tersebut setelah Anda bekerja secara kredit. Lho, apakah saya bisa bekerja padahal saya tidak punya visa kerja? Itu reaksi Anda tentu saja. Setelah lulus, mahasiswa internasional diperbolehkan untuk menjalani practical training (magang kerja) pada perusahaan-perusahaan di AS selama 1 tahun. Kalau Anda berprestasi baik dan beruntung, atasan Anda mungkin saja akan mengaplikasikan visa kerja untuk Anda. Banyak teman-teman saya yang berhasil dengan cara itu. Khusus untuk topik visa kerja silakan kunjungi situs US Citizenship and Immigration Services ini. Karena tidak semua universitas menyediakan student loan, maka sebaiknya Anda banyak-banyak browsing mencari universitas yang memiliki program bantuan finansial yang kaya.

Adakah cara untuk mengurangi ‘investasi’ dan ‘risiko’ ini? Ada. Beberapa universitas yang bagus (baca: yang kaya akan program bantuan finansial dan fleksibel) memberikan kesempatan bagi Anda untuk mengajukan lamaran untuk posisi GRA bersamaan dengan lamaran untuk diterima di universitas tersebut. Salah satu teman seapartemen saya dulu, dari Bulgaria, mendapat kesempatan tersebut. Sejak di tanah airnya, dia melamar program S-2 Komunikasi Jurnalistik dan posisi GRA secara bersamaan. Ketika dia akhirnya diterima di program S-2 , dia juga mendapat posisi GRA tersebut sehingga ketika dia berangkat ke AS, dia lenggang kangkung tanpa harus khawatir tentang kondisi finansialnya. Untuk itu, ada 2 kata kunci yang saya sarankan kepada Anda adalah: 1. rajin-rajinlah browsing berbagai universitas dan kumpulkan informasi demi informasi dengan sangat teliti, 2. jangan ragu-ragu untuk menghubungi contact person di universitas yang bersangkutan dan aktiflah untuk berkomunikasi dengan mereka.

Setelah saya uraikan beberapa langkah alternatif untuk mendanai pendidikan lanjut Anda di luar negeri – khususnya di AS pada seri kedua ini – saya harap Anda terinspirasi untuk secara aktif berjuang mendapatkan kesempatan studi lanjut di luar negeri. Percayalah, ikhtiar yang serius akan mendatangkan hasil yang serius juga. Apa yang Anda terima pasti sebanding dengan pengorbanan yang Anda berikan. Jangan putus asa dan teruslah berjuang. Good luck and have a great one!

Pendidikan adalah satu kata kunci yang paling penting bagi keberhasilan suatu bangsa. Bukan karena saya dari dunia pendidikan pernyataan itu saya buat, tetapi faktanya memang dengan ilmu manusia akan kaya. Tentu saja ilmu yang bermanfaat, yang salah satunya diperoleh melalui pendidikan formal.

Sebanyak itu anak muda putus sekolah, sebanyak itu pula anak muda Indonesia yang ingin melanjutkan pendidikan mereka ke jenjang yang lebih tinggi. Tidak sedikit pula dari mereka yang ingin melanjutkan pendidikan ke luar negeri. “Tapi saya nggak punya uang untuk sekolah ke luar negeri…”, itu keluhan yang paling sering muncul. Lagi-lagi kendala dana, sudah bisa dipastikan. Jangan angkat pendapat “Memangnya pendidikan dalam negeri jelek?”. Bukan itu bahasan kali ini. Bahasan saya kali ini adalah bagaimana caranya mendanai pendidikan kita di luar negeri dengan dana Rp 0,- dari kantung kita sendiri.

OK, so you want to study abroad but you don’t have the fund! Heck, let somebody pays for it! Bagaimana caranya? Pilihan pertama: cari beasiswa (of course, duh?). Di mana? Di mana-mana. Paling komplit ya di internet. Browse semua situs yang berkaitan dengan beasiswa. “Tapi bahkan situsnya apa, saya nggak tau… Gimana dong…”. Kalau ini komentar Anda, pikir sekali lagi apakah studi lanjut memang yang Anda inginkan? Kalau ya, Anda tentu tidak akan memiliki mentalitas seperti itu – mentalitas ‘gimana dong?’… Karena bisa jadi keinginan utamanya bukan studi lanjut, melainkan yang penting tinggal di luar negeri. Kalau itu alasannya, silakan cari: 1. bule yang bersedia dinikahi supaya Anda dapat greencard, 2. kerjaan di kapal pesiar, lalu ketika kapal merapat di dermaga negara yang Anda inginkan, silakan turun dan segera kabur lalu menetap secara ilegal, atau 3. cari lotere visa greencard (sementara ini hanya Amerika Serikat yang menyelenggarakan). Tapi lagi-lagi, bahasan saya bukan bagaimana caranya bisa tinggal di luar negeri, melainkan bagaimana sekolah di luar negeri dan pembiayaannya dari pihak lain. Kita tadi sampai pada pilihan: cari informasi beasiswa di berbagai situs di internet. Bisa silakan menggunakan google, atau bisa kunjungi beberapa daftar situs beasiswa berikut ini:

Beasiswa Fulbright (USA)

Beasiswa Ford Foundation (USA)

Beasiswa AusAid (Australia)

Beasiswa Endeavour (Australia)

Beasiswa MAE-AECI (Spain)

Beasiswa MITYC (Spain)

Beasiswa Nuffic NFP – PhD (The Netherland)

Beasiswa DAAD (Germany)

Beasiswa OAD (Austria)

Kalau ingin yang lebih komplit lagi, silakan kunjungi situs bank data beasiswa yang saya temui ini, lumayan lengkap isinya. Atau silakan juga coba situs ini, yang juga lumayan lengkap. Itu apabila Anda ingin menggunakan sumber dana beasiswa, yang biasanya berarti tugas utama Anda adalah belajar sebaik mungkin tanpa harus melakukan pekerjaan apapun. Hanya yang perlu Anda catat adalah bahwa kompetisi untuk mendapatkan beasiswa tentunya tidak tanpa perjuangan yang berat. Kompetisinya sangat intens, khususnya untuk beasiswa di negara-negara yang English-speaking. Bagaimana dengan negara-negara yang non-English speaking? Yang pasti kompetisinya tidak seketat beasiswa negara English-speaking. Salah satu faktornya adalah kendala bahasa, artinya tidak banyak orang bisa menguasai bahasa asing lain selain Inggris. Bahasa Inggris hampir semua orang paham, tapi yang menguasai bahasa Spanyol jelas lebih sedikit persentasenya di Indonesia. Sehingga kompetisi untuk mendapatkan beasiswa ke Spanyol misalnya, lebih longgar daripada kompetisi untuk mendapatkan beasiswa seperti AusAid, Fulbright, dsb.

Mendapatkan beasiswa butuh pengorbanan dan kegigihan yang besar. Dilarang patah semangat! Saya sudah 6 tahun mencoba beasiswa AusAid dan tidak pernah lolos (pernah satu kali dipanggil untuk wawancara, tapi tetap tidak menjadi grantee). Saya juga 5 tahun berturut-turut mencoba beasiswa Fulbright dan alhamdulillah baru di tahun ke-5 ini akhrinya gol juga. Kalau menuruti kata hati saya, di tahun ketiga, rasanya saya sudah hilang semangat. Saya saat itu tidak tertarik untuk melanjutkan perjuangan ke tahun-tahun berikutnya, tapi kemudian saya pikir, apa salahnya? Kalau sudah menjadi rejeki kita, tentu tidak akan lari ke mana pun, tapi memang rejeki itu harus dicari dengan ikhtiar. Ikhtiar saya 5-6 tahun. Mungkin ada yang ikhtiarnya cukup 1 tahun dan langsung dapat (seperti waktu saya dapat beasiswa ke Spanyol 3 tahun lalu, yang kemudian tidak saya ambil..). Setiap orang kasusnya berbeda-beda sehingga kata kunci yang lain di sini adalah: dilarang putus asa di tengah jalan!

Apa saja yang harus Anda persiapkan sebelum aplikasi beasiswa? Yang pasti untuk amannya, segera ukur kemampuan bahasa Inggris Anda dengan TOEFL atau IELTS juga bisa. Untuk menghemat biaya, Anda bisa mengambil TOEFL-like test (orang bilang TOEFL2an), atau institutional TOEFL, sebelum akhirnya – jika skor Anda sudah mengalami kemajuan yang signifikan – mengambil international TOEFL. Memang beberapa beasiswa tidak mengharuskan international TOEFL – contohnya AusAid, institutional TOEFL saja sudah cukup untuk saringan pertama karena selanjutnya jika Anda shortlisted, Anda akan diminta untuk tes IELTS (gratis didanai oleh pihak AusAid). Fulbright juga tidak mengaruskan international TOEFL, institutional sudah cukup karena setelah terpilih/shortlisted, Anda akan diminta tes lagi – gratis.

Bagaimana dengan beasiswa di non-English speaking countries? Jelas, siasatilah dengan mulai kursus berbagai macam bahasa selain bahasa Inggris, sebanyak mungkin untuk memperbesar peluang Anda mendapatkan beasiswa di negara non-English speaking. Saya, sebagai contoh, saking semangat ‘45-nya, sewaktu masih sibuk mencari beasiswa, saya belajar/kursus 3 bahasa sekaligus: Spanyol, Jerman, dan Belanda. Konyolnya, saking bingungnya, kadang-kadang saya tertukar bahasa: pada saat bicara bahasa Spanyol, ada kata2 bahasa Jerman yang ‘nyelip’ tanpa sengaja, atau pada saat bicara bahasa Belanda, ada kata2 bahasa Spanyol numpang lewat. Kacau memang, tapi itu bukan masalah besar. It’s worth the result! Sehingga ketika ada lowongan beasiswa ke Jerman, Spanyol dan Belanda, saya sudah siap dengan skor hasil tes kemampuan bahasa Oh ya, masing-masing juga punya tes standar kemampuan bahasa sehingga ada baiknya untuk mengambil tes tersebut. Oleh karenanya, kursusnya sebaiknya diprogram paling tidak 1 tahun sebelum aplikasi beasiswa, jadi ada waktu cukup untuk menguasai bahasanya dan lolos syarat skor minimal tes standar kemampuan bahasanya. (Catatan: untuk bahasa Spanyol, sebaiknya sudah lolos DELE 2; bahasa Jerman Mittelstuffe dari Goethe Institut).

———- bersambung ———-

Time does fly and it flies fast! The more I think of it, the more I get nervous about it.

Well, here’ s the thing, for the past five years, I’ve been struggling to search for scholarship to fund my PhD study. I don’t know how many scholarships I’ve applied to, how many sites I’ve browsed to, how many universities I’ve contacted in order to look for a research assistant position, and how many tears I’ve cried for I was never granted any of those. Until few months ago, exactly in September 2007, my cel phone rang on a nice Saturday morning. I wasn’t gonna answer the phone as I didn’t recognize the number, but that morning, something inside of me seemed like telling me that this might be an important call. So I answered the call and to my surprise, the man accross the line congratulated me because I was granted a Fulbright scholarship for a PhD study in the US, commencing in Fall 2008!! I was speechless. I looked at the mirror and realized how dumb I looked for hearing the news. After five consecutive, struggling years, it all pays back! I got it! I kneeled and put my forehead on the floor as a ritual for being grateful to The One and Only Creator of this universe.

Then the next steps began: I had to take series of aptitude test such as GRE, GMAT, and TOEFL – the last time I took those tests was about 12 years ago, before I enroled in the master’s degree program. Boy, it’s not easy apparently. Not to mention that for 12 years, one’s brain’s capability can diminish in an unbelievable pace! If I used to be able to read a reading passage once before answering the questions correctly, this time, I had to read it three times and sometimes must go back to the passage while answering the questions. Along with these frightening tests, I was told that spouse and children were allowed to accompany the scholarship grantees during their study, however, they weren’t allowed to go along at the same time as the grantees. Meaning, I have to fly to the US first and my husband and daughter followed after at least one month – this is information I got from a Fulbright grantee who’s already in the US. But one official mentioned something about a few months – an information that made me anxious, thinking that I would be separated for a few months from my family – my husband and daughter.

I have never been away from my family more than a week. Now I have to be away from them for a few months? Of course, everything comes with a price – in my case the price for this scholarship is the temporary separation from a family. I understand that that is a logical consequence but still, I’m nervous about it. If I take a broader concept of what constitutes a family, that should include my parents, my 63-year old parents. To be temporarily separated from my core family for few months has already brought a certain distress. What about temporarily separation from my parents for 5-6 years? To make me feel worse, they are getting older as time flies so fast. What kind of distress am I looking at? The thought of a temporary separation didn’t bother me as much few months ago as I kept saying to myself: “Well… it’ll still be next year so I why should I worry about it now..” But now is that “next year” – the very term that I used to make me feel better; a term that was used to manipulate my feelings of anxiety.

How time flies.. Once it was September 2007, then came along the October, November, December, and oh my goodness… the 2008 is here! I’m getting closer to that particular moment that has made me feel somehow insecure! As I’m writing this posting, I’ve been trying to hold back my tears. Some wild memories jumped into the picture, depicting me in my childhood: I was hugged gently and safely by my mom while my dad sitting on the edge of the bed, playing his guitar and singing my favorite song before I slept – a family ritual during my childhood. I can still remember the song and every time I hear it now, it works like Pavlov’s theory of classical conditioning – I feel soothed and peaceful. And I’m leaving them for a few years in a very short time, to be more exact, in 5 months from now (or 12 months from the day I got the news).

How time flies – that’s also what’s gonna happen when I’m doing my study. How time flies so fast that without realizing it, I’ll be with my family again – my core family and my parents – soon…sooner than I thought, cause time does fly and it flies fast…

I have been introduced to this site since a zillion years ago (to exaggerate it a little bit ;) ) yet, I just had a chance about few seconds ago to create my account. This writing will be my first debut in this space. Despite too many things that are running around inside my brain, I don’t have any interesting ideas to share at this moment, to be honest with you all. So, please spare me if the writing of my FIRST DEBUT bores the h*** out of you :)

When the idea of blogging became first popular back then, I thought: “Why in the world would anyone share his/her own private matters to unidentified foreign objects in the virtual space???” I encountered to various types of blogs, randomly ranging from political matters to teenagers’ diary. In my opinion at that moment, it’s like we’re letting strangers easily dig into our personal life, thoughts and feelings. It’s like we deliberately exposing ourselves to all strangers out there while the worst case is, we don’t know who else out there, what their intentions are, are they good guys or bad guys, and so on. Blogging inherited a bit of exhibitionism character, so to speak.

Then, after some more encounters with blogs, I realized that it’s not what it seems. It is all up to us how open we are to let others “see and learn” ourselves. The control is in our hand. Yes, blogging is about marketing. As with any other marketing actions, the control of aggressiveness lies in the marketer’s part. Of course, the more aggressive you are, the more widely recognized you are, with all of its consequences as it all comes in one package. But blogging apparently (duh??) brings a lot of new things to learn. It opens a new world to those who haven’t found the key to the world before. You suddenly become the most knowledgeable person among your friends. Not only that, your friends base is wider than before; you get to meet people that bring you new stuff, even new businesses.

In short, I see a great deal of advantage of blogging and for that reason, I’m starting to blog myself. I hope you gain something beneficial from my blogs later on. Enjoy..